Potret Kaum Marjinal Di Jakarta

Jakarta adalah merupakan salah satu kota yang menjadi dambaan bagi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Jakarta yang sebagai ibukota negara Indonesia, juga menjadi pusat perekonomian, perdagangan, wisata, dan pemerintahan. Hal inilah yang membuat banyak orang datang ke Jakarta untuk mengadu nasib atau menggapai sebuah impian.

Jumlah penduduk Jakarta setiap tahun selalu meningkat. Dari berbagai daerah berdatangan dengan harapan mendapat pekerjaan yang layak di ibukota besar itu. Memang tidak ada larangan untuk siapa saja yang mau datang ke kota tersebut. Namun, terkadang ada banyak orang yang datang ke Jakarta dengan bermodal nekat. Seperti contoh minimnya pendidikan, tumpulnya skill atau keterampilan, tidak adanya relasi, kurang pengetahuan, dll. Oleh karena itu, berjalannya waktu persaingan hidup semakin keras, kompitisi kreasi akan diseleksi oleh zaman itu sendiri serta pasar globalisasi. Dan banyak orang yang tidak berhasil untuk merubah nasib atau menggapai mimpinya di kota Jakarta. Lambat laun semua akan terpinggirkan oleh situasi. Mereka yang terpinggirkan oleh situasi maupun peradaban yang modern yang membuat menjadi sebagian gelandangan atau tuna wisma, pengemis, pemulung, anak jalanan dan kalangan lain biasa menyebutnya dengan kata "pra sejahtera atau "marjinal". 



Para kaum marjinal biasa cenderung hanya bertahan hidup. Terkadang mereka sehari hanya makan sekali, bahkan tidak makan. Sebagian dari mereka yang gelandangan atau tuna wisma jika pagi hingga sore hanya duduk dipinggir jalan untuk berharap belas kasihan dari orang yang memberinya makan. Ada juga sebagian dari mereka yang berjalan kaki tanpa arah tujuan yang benar. Jika dirinya sudah merasa haus dan lapar mereka dengan memberanikan diri untuk meminta kepada orang yang ditemuinya di jalan atau ke warung makan. Apabila telah tiba malam hari, mereka tidur di emperan toko. Tubuh dan pakaian mereka sangat dekil dan membau. Wajah mereka kusam, kuku jari mereka terlihat penuh dengan kotoran.




Para kaum marjinal biasanya berada jauh dari tempat keramaian. Seandainyapun mereka berada ditempat keramaian, mereka sedang menanti atau berharap belas kasihan dari orang-orang. Sebab, mereka berpikir jika banyak orang kemungkinan besar ada yang memberinya makanan atau uang.

Saya sangat menghargai potret kehidupan para kaum marjinal. Saya selalu bersosialisasi tanpa diskriminasi dengan mereka. Hal ini sudah sekitar dua tahun saya berteman akrab dengan para kaum marjinal khusus di wilayah Senen, Bungur, Kemayoran dan sekitar Jakarta Pusat. 

Kaum marjinal yang sering ditemui rata-rata berumur antara 20-60 tahun. Ini bisa di temui jika malam hari mereka terlihat tidur di emperan toko ataupun kolong jembatan tol. Hanya dengan beralas kardus, kertas, bahkan terkadang tidak beralas. Pola seperti ini, membuat mereka sebagian kondisi fisiknya mudah sakit, dan ada juga yang meninggal dunia. 

Setiap para kaum marjinal tidak semua sama memiliki rasa pesimis terhadap kesehatan tubuhnya. Ada juga diantara mereka yang memperhatikan kebersihan tubuh dan pakaiannya. Seperti contoh kecil rajin mandi, mencuci pakaiannya dan menggunting kuku atau rambut.

Saya sering mengingatkan bahkan memberi pemahaman sederhana terhadap para kaum marjinal tentang menjaga kesehatan pada tubuh mereka. Tetapi, tidak semua kaum marjinal yang mau menerima pemahaman tersebut, artinya mereka mengabaikan prosedur kesehatan.



Membimbing atau mengarahkan mereka untuk pola hidup sehat, aktif kreatif dan berinovasi tidak mudah. Perlunya kesabaran yang ekstra serta hati yang menjiwai terhadap setiap sifat dan karakter pribadi para kaum marjinal tersebut. Karena pada dasarnya, metode untuk membangun pendekatan terhadap mereka cara yang efektif dengan sentuhan hati. Dengan kata lain, membangun hubungan layaknya seperti saudara. Tanpa ada sikap menghina atau merendahkan, melainkan simpati dan empati terhadap posisi mereka.

(Tulisan ini tidak bermaksud untuk merendahkan martabat sesama manusia yaitu para kaum marjinal yang dimana penulis jelaskan. Tetapi tulisan ini hanya untuk menceritakan sisi kehidupan orang-orang yang dianggap masih pra-sejahtera. Disamping itu, tulisan ini juga untuk membagikan energi positif. Mengenai menyisihkan waktu sejenak untuk menebar kebaikan kepada orang-orang yang hidupnya di bawah garis kesusahan).

Apabila ada saran atau kritik dari pembaca, silahkan tulis di kolom komentar. Tentunya penulis dengan senang hati menerima untuk mengalami perubahan kebaikan. Sehingga dapat diaplikasikan ke dalam kegiatan berikutnya untuk melayani para kaum marjinal di Jakarta Pusat.

Salam manis yang tidak pernah akan habis dari penulis. Peace For You.

Komentar

  1. Shalom sdrku dlm Kristus, mohon info apakah ibu tua yg ada di pict itu berasal dr Pulogebang bekasi? Trm ksh kiranya Tuhan ckpkan kep sdr utk melayani Tuhan dan pekerjaanNya dan melayani jiwa2 spt kpd Kristus, AMEN TYM EMMANUEL 🙋‍♀️

    BalasHapus
    Balasan
    1. Shalom jg saudaraku.
      Salam kenal di dalam Tuhan Yesus Kristus.
      Itu bukan perempuan tapi laki2. Gbu.

      Hapus
  2. Bp Parulian, anda luar biasa, saya tertarik membaca ulasan tentang kaum yang Disebut Marjinal ini, karena saya sendiri lumayan sering memikirkan tentang hal, dan rindu untuk ambil bagian dalam hal yang Anda sebut pelayanan ini, namun saya megatakannya "berbagi" dan saya sepakat dengan pendekatan seperti yang sudah anda lakukan, yaitu berawal dengan cara menjalin hububungan persaudaraan pribadi lepas pribadi dengan suadara2 kita ini demi agar bisa dapat berkontribusi atas nasib dalam keseharian dan masa depan yang lebih baik bagi mereka, saya berharap kiranya apa yang anda sampaikan ini akan terus menjadi impact dan memotivasi lebih banyak orang untuk lebih perduli kepada hal2 kemanusiaan, khususnya kepada kaum yang anda sebut Marjinal ini.

    Salam kenal dan terima kasih telah mengulas tentang ini.
    tedylim

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih pak Tedy Lim. Salam kenal dari saya.

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

The Marginal (Part 1).

TEMPAT BELAJAR GRATIS DI PINGGIR REL KERETA API AKTIF